Sunday, August 15, 2010

Imaginary Border



Yeahh.. the phrase 'Imaginary Border' is not a scientist/philosopher's terminology.. It's just my own words to describe what makes people sometimes feel uncomfortable when they have a very close or even far distance with others..

I was inspired to write about it because of what I've learnt at my lecture..

Sometimes.. sadar atau nggak sadar.. kita ngerasa nggak nyaman kalo ada orang yang nggak kita kenal trus deket-deket sama kita.. apalagi kalo jaraknya sampe kurang dari (sekitar) 20 cm atau mungkin sampe ada kontak fisik, mungkin refleks kita bakalan kaget dan ngejauh dari orang itu untuk menjaga jarak yang menurut kita lebih nyaman..

Kenapa begitu???

Inilah yang gw sebut dengan 'Imaginary Border', di mana setiap manusia sebenarnya punya ambang batas jarak yang membuat dirinya merasa nyaman ketika berinteraksi dengan orang lain.. Jadi, kita seolah-olah punya 'batas khayalan' yang melindungi privasi kita dari orang lain..
Sebenarnya ini bukanlah teori baru, karena Edward T. Hall telah membahasnya dalam bukunya yang berjudul The Hidden Dimension. Dalam buku tersebut beliau menyebutkan : "the subjective dimensions that surround each of us and the physical distances one tries to keep from other people, according to subtle cultural rules."


Itulah yang gw dapet dari salah satu mata kuliah gw di kampus.. Awalnya waktu ngebaca buku itu gw nggak gitu memahami.. tapi pas ngalamin sendiri ternyata gw baru ngerti.. Tapi di sini gw berusaha membuat istilah baru yang menurut gw lebih mudah dimengerti yaitu 'Imaginary Border'

Seperti yang dikatakan oleh Edward T. Hall dalam bukunya tersebut, bahwa jarak di mana kita merasa berada nyaman terhadap orang lain tersebut berbeda-beda tergantung pada kultur/budaya. Menurut gw ada hal-hal lainnya yang juga mempengaruhi, antara lain: hubungan antar orang yang berinteraksi dan bisa juga tempat di mana kita berada..



dari segi kultur/budaya, pastinya terdapat perbedaan yang mencolok antara kultur budaya barat dan timur.. misalnya aja orang barat terbiasa memberikan pelukan even just to say 'hi' or 'thanks' (bahkan meskipun itu antara laki-laki & perempuan yang bukan pasangan).. tapi coba bayangin kalo itu itu terjadi di Indonesia.. pasti bakal menimbulkan kesan kalo keduan orang tersebut pacaran atau mungkin kakak adik.. Di sini terlihat bahwa pastinya orang-orang barat mempunyai jarak yang lebih dekat/pendek antara satu orang dengan orang lainnya dibanding orang-orang di timur..



hubungan antara orang yang berinteraksi menurut gw adalah hal utama yang membedakan kita dalam menentukan jarak/batas kita terhadap orang lain.. kalo kita merasa udah deket sama orang itu, misalnya keluarga, pacar, suami/istri, pastinya kita akan ngerasa nyaman nyaman aja untuk berada pada jarak kurang dari 20 cm dan memungkinkan adanya kontak fisik.. lain halnya kalo kita sedang berinteraksi sama orang yang sekedar temen kita doank, tentunya jarak yang kita berikan akan lebih jauh.. ini juga berlaku ketika kita berbicara dengan orang yang tidak kita kenal.. Jadi kesimpulannya semakin dekat/erat hubungan kita dengan orang (yang berinteraksi dengan kita) maka semakin dekat pula jarak yang kita gunakan/berikan..


sehubungan dengan hal ini, gw pernah mengalami yang namanya ngantri dan desek-desekkan di antara orang-orang yang sama sekali nggak gw kenal tentunya.. dalam posisi tersebut gw tetep berusaha menjaga jarak dengan memasang 'imaginary border' gw dan berusaha supaya gw nggak terlalu deket sama orang-orang lainnya.. sepertinya hampir semua orang yang ada di sekitar gw juga gitu, meskipun kami desek-desekkan, kami tetap mengusahakan agar di antara kami ada jarak, even sekecil apapun itu.. tapi entah mengapa ada beberapa orang yang menurut gw kayaknya mereka nggak punya hidden dimension (atau yang gw sebut imaginary border itu).. mereka merasa nyaman2 aja berada 'tanpa jarak' atau dengan kata lain kontak fisik dengan orang yang ada di sebelah/depan/belakang mereka.. entah kenapa saat ada orang kayak gini di sekitar gw, gw bener2 ngerasa uncomfotable banget dan berusaha ngejauh dari orang itu.. saat itulah gw baru ngerasain kalo emank bener setiap manusia punya hidden dimension.. (tapi mungkin pengecualian kali ya buat orang2 kayak yang gw sebutin sebelumnya)



mengenai tempat di mana kita berada, ini subjektif dan lagi-lagi balik ke kultur/budaya orang itu sendiri.. maksudnya begini.. saat kita berada di tempat formal seperti kantor atau sekolah terkadang kita akan cenderung menjaga jarak even sedeket apapun hubungan kita sama orang lain, contohnya saat di sekolah/kantor mungkin kita nggak akan bisa berdekatan sama pacar kita sebebas waktu di luar, kalo kita dijemput atau dianter sama orang tua pasti kita akan ngerasa malu dan nggak mau kalo dicium sama papa mama kita di depan sekolah/kampus, waktu lagi berada di tengah meeting nggak mungkin kita do what a couple do when dating (depend on situation sihh kalo yang ini)..

Sekali lagi faktor yang terakhir ini sangat bergantung sama faktor yang pertama tadi, yaitu kultur.. Jadi mungkin akan berbeda keadaannya di setiap daerah/wilayah.. Selain itu juga dipengaruhi oleh faktor peraturan yang berlaku di tempat-tempat formal tersebut..




That's what I know 'bout Hidden Dimension ( or Imaginary Border as what I prefer name it with ).. May this post could enlarge your knowledge.. :)


No comments:

Post a Comment

thanks for visiting my blog ♥
so glad to read your lovely comments..

follow me on twitter & instagram: @veraaraminta